Wednesday, April 15, 2009

Pilihan Mulia Seorang Ibu

Ketika saya membaca artikel Kompas ini, saya jadi teringat kejadian 5 tahun yang lalu, ketika istri saya mulai hamil dan memasuki umur 2-3 bulan. Ketika itu saya dan istri saya dihadapkan kepada pilihan yang tidak gampang untuk memilih opsi-opsi di dalamnya. Karena ini menyangkut masa depan calon buah hati kami nanti.

Seperti yang anda ketahui bahwa pembentukan karakter seorang manusia itu ditentukan pada 5 tahun pertamanya. Bagaimana dia diajari dari lingkungannya, itu berarti kondisi lingkungannya pada umur 0-5 tahun itulah yang mempunyai peran sangat besar pada pembentukan karakter seorang anak dan sangat besar kemungkinan karakter itulah yang akan dibawa seumur hidupnya.

Melihat artikel-artikel semacam itulah yang membuat istri saya menjadi bimbang waktu itu. Waktu itu istri saya mempunyai karir yang bagus di perusahaan dimana dia bekerja dan dia sudah mulai merasa cocok pada perusahaannya itu, tentu saja gaji yang lumayan pun diterimanya. Waktu itu kami sedang memulai hidup sebagai pasangan pengantin baru dan mempunyai sebuah rumah baru yang dibeli melalui KPR sehingga kami harus menyicilnya setiap bulan dengan jumlah cicilan yang menurut kami sebetulnya lumayan besar. Sehingga jika waktu itu istri saya memilih keluar kerja tentu kondisi keuangan rumah tangga kami itu akan sedikit terguncang.

Tetapi pilihan harus tetap dipilih. Memang pilihan istri waktu itu sangat berat, mengorbankan masa depan karir-nya atau mengorbankan masa depan anak saya, begitu teman saya waktu itu memberikan kalimat yang cukup tegas terhadap permasalahan kami tersebut. Istri saya sama sekali tidak percaya jika harus dititipkan ke seorang yang sama sekali lain (baby sitter). Karena banyak pengalaman buruk yang menimpa teman-teman-nya karena memakai seorang baby sitter. Tentu hal tersebut akan mengorbankan masa depan anak kami nanti. Tetapi kalau istri saya memilih keluar dari pekerjaan tentu selain keuangan rumah tangga semakin berat, dia juga akan membuang karir yang sudah dibinanya mati-matian selama bertahun-tahun. Tapi on other side, karena jam kerja kami berdua sama, jadi dijamin calon anak kami tersebut tidak akan bertemu dengan orang tuanya selama 8 jam setiap harinya, itu berarti 48 jam seminggu, itu berarti 2.400 jam setahun dan ketika dia menginjak 5 tahun, 12.100 jam dia tidak bertemu dengan kedua orang tuanya. Wow, angka yang luar biasa…

Pada umur sang bayi sudah menginjak 6 bulan, akhirnya pilihan tersebut harus segera di centang salah satu untuk harus segera dilaksanakan. Akhirnya, istri saya dengan hati yang mantap dia memilih untuk mengorbankan masa depan karir-nya dan memilih melindungi masa depan anak kami nanti. Saya waktu itu sempat terharu melihat kemantapan hatinya yang 3 bulan sebelumnya menjadi dilema besar buat dia. Dia bertekad untuk membentuk karakter anak-nya kelak dengan tangannya sendiri. Daripada nyawa anaknya diserahkan pada orang lain. Dia ingin setiap menit bahkan detik perkembangan anak-nya tersebut ada dalam pengawasan mata-nya sendiri tidak melalui cerita dari si pengasuhnya.

Istri saya pernah bertanya pada saya, “Apakah nanti Farrel (nama anak kami), tahu akan pengorbanan saya?”. Saya pun menjawab, “Ketika hamil, kamu yang merasakan sakit, ketika melahirkan kamu yang memberikan separuh nyawa kamu dan nanti setelah lahir pun kamu membuang semua masa depan karir kamu. Ya, nanti pasti Farrel akan tahu…”

Banyak pertanyaan atas sikap istri saya tersebut, bagaimana dengan pendapatan rumah tangga? Uang tidak bisa di dapat dari perusahaan saja, banyak sekali cara mendapatkan uang dari rumah, dari menjahit, membuat roti, bisnis internet, kerajinan dan masih banyak lagi. Dan sekarang istri saya pun baru merintis apa yang bisa dikerjakan di rumah untuk menambah pendapatan rumah tangga kami karena anak kami sekarang ini sudah mulai sekolah dan banyak waktu luang yang bisa digunakan.

Beberapa ibu sering kali, tidak mau mengorbankan masa depan karirnya dengan berbagai alasan. Dari tidak mau kesepian di rumah, takut kehilangan pendapatan, takut kehilangan teman-teman sekerja. Tapi apakah anda tidak takut akan kehilangan masa depan anak yang anda kasihi, apakah anda juga tidak memikirkan anak anda juga membutuhkan belaian kasih sayang dari tangan ibunya sendiri, apakah anda tahu bahwa anak anda juga kesepian jika tidak berada di dalam dekapan ibunya? Jika anda telah mengorbankan segalanya buat anak anda, anda adalah seorang ibu yang sangat mulia…

0 comments: